Wednesday, September 7, 2016

Manfaat Dan Harga Pohon Jati

Jati salah satu tanaman pohon berkwalitas bagus yang sering di gunakan sebagai bahan baku meubel dan furniture di daerah jawa bahkan sampai luar jawa dan mancanegara pun banyak konsumen yang menggunakan furnitur berbahan kayu jati, Kayu jati memiliki daya tahan yang luarbiasa jika digunakan untuk perabotan rumah tangga sehingga kayu jati ini menjadi salah satu primadona di daerah pengrajin furniture daerah jawa khususnya di daerah jepara yang mayoritas pengrajin meubel dari kayu jati.
Pohan jati ini sangat cocok di tanam di daerah jawa khususnya jawa tengah karena pohon jati memiliki nilai ekonomis yang tinggi bisa juga di jadikan simpanan setara dengan simpanan deposito di bank.
Karna pertumbuhan jati yang sangat baik di daerah jawa maka banyak petani bahkan mereka yang ber modal meluangkan waktu modal dan tenaganya untuk menanam pohon ini ada yang hanya untuk sekedar memanfaatkan lahan lahan tidur dan ada juga yang memperhitungkan nilai ekonomisnya yang fantastis.....!!!
Karena dari sebatang pohon jati yang di tanam 10 s/d 25 th pohon jati ini sudah bisa bernilai jutaan rupiah...bayangkan jika kita menanamnya puluhan atau ratusan batang...???
Tentu tidak akan sia sia kita menunggu selama 10 s/d 23 th ini.....!!!

sekilas info tentang Jati

Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohonnya besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku (തേക്ക്) dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f.

Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.[1] Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak dibanjiri dengan air.[2] Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa.[1]

Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati.[3] Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras.[3] Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri.[4] Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.[4]

Umumnya, Jati yang sedang dalam proses pembibitan rentan terhadap beberapa penyakit antara lain leaf spot disease yang disebabkan oleh Phomopsis sp., Colletotrichum gloeosporioides, Alternaria sp., dan Curvularia sp., leaf rust yang disebabkan oleh Olivea tectonea, dan powdery mildew yang disebabkan oleh Uncinula tectonae.[5] Phomopsis sp. merupakan penginfeksi paling banyak, tercatat 95% bibit terkena infeksi pada tahun 1993-1994.[5] Infeksi tersebut terjadi pada bibit yang berumur 2 – 8 bulan.[5] Karakterisasi dari infeksi ini adalah adanya necrosis berwarna coklat muda pada pinggir daun yang kemudian secara bertahap menyebar ke pelepah, infeksi kemudian menyebar ke bagian atas daun, petiol, dan ujung batang yang mengakibatkan bagian daun dari batang tersebut mengalami kekeringan.[5] Jika tidak disadari dan tidak dikontrol, infeksi dari Phomopsis sp. akan menyebar sampai ke seluruh bibit sehingga proses penanaman jati tidak bisa dilakukan.

No comments:

Post a Comment